NAFAS HIDUP
Bacaan : Kejadian 2:4-8
Pada suatu pagi yang dingin dan membeku, saat
saya dan putri saya berjalan bersama menuju sekolahnya, kami sangat
senang melihat hembusan napas kami berubah menjadi uap. Kami tertawa
geli melihat bermacam-macam bentuk uap yang dihasilkan dari hembusan
napas kami. Saya mensyukuri momen itu, karena saya dapat menikmati
kebersamaan dengan putri saya dan merasakan hidup.
saya dan putri saya berjalan bersama menuju sekolahnya, kami sangat
senang melihat hembusan napas kami berubah menjadi uap. Kami tertawa
geli melihat bermacam-macam bentuk uap yang dihasilkan dari hembusan
napas kami. Saya mensyukuri momen itu, karena saya dapat menikmati
kebersamaan dengan putri saya dan merasakan hidup.
Hembusan napas kami yang biasanya tidak
terlihat itu tampak di udara dingin, dan itu membuat saya memikirkan
tentang Sumber dari napas dan hidup kita—Allah Pencipta kita. Dia, yang
menciptakan Adam dari debu tanah dan memberinya napas hidup, juga
memberikan hidup kepada kita dan setiap makhluk ciptaan-Nya (Kej. 2:7). Segala sesuatu berasal dari-Nya, bahkan napas yang kita hirup tanpa memikirkannya.
terlihat itu tampak di udara dingin, dan itu membuat saya memikirkan
tentang Sumber dari napas dan hidup kita—Allah Pencipta kita. Dia, yang
menciptakan Adam dari debu tanah dan memberinya napas hidup, juga
memberikan hidup kepada kita dan setiap makhluk ciptaan-Nya (Kej. 2:7). Segala sesuatu berasal dari-Nya, bahkan napas yang kita hirup tanpa memikirkannya.
Karena sekarang kita mempunyai banyak
kemudahan dan teknologi, kita mungkin cenderung melupakan asal mula kita
dan kenyataan bahwa Allah sebagai sumber hidup kita. Namun ketika kita
berhenti sejenak untuk mengingat bahwa Allah adalah Pencipta kita, kita
dapat menjadikan ucapan syukur sebagai kebiasaan kita sehari-hari. Kita
dapat meminta pertolongan-Nya sambil menyadari dengan rendah hati dan
penuh syukur bahwa hidup kita adalah anugerah. Kiranya ucapan syukur
kita terus melimpah dan menyentuh hati orang lain, sehingga mereka juga
akan bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikan dan kesetiaan-Nya.
kemudahan dan teknologi, kita mungkin cenderung melupakan asal mula kita
dan kenyataan bahwa Allah sebagai sumber hidup kita. Namun ketika kita
berhenti sejenak untuk mengingat bahwa Allah adalah Pencipta kita, kita
dapat menjadikan ucapan syukur sebagai kebiasaan kita sehari-hari. Kita
dapat meminta pertolongan-Nya sambil menyadari dengan rendah hati dan
penuh syukur bahwa hidup kita adalah anugerah. Kiranya ucapan syukur
kita terus melimpah dan menyentuh hati orang lain, sehingga mereka juga
akan bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikan dan kesetiaan-Nya.
Bapa
Surgawi, Engkau sungguh Allah yang dahsyat dan mengagumkan! Engkau
menciptakan kehidupan dengan napas-Mu sendiri. Kami memuji-Mu dan
mengagumi-Mu. Terima kasih untuk karya ciptaan-Mu.
Surgawi, Engkau sungguh Allah yang dahsyat dan mengagumkan! Engkau
menciptakan kehidupan dengan napas-Mu sendiri. Kami memuji-Mu dan
mengagumi-Mu. Terima kasih untuk karya ciptaan-Mu.
Bersyukurlah kepada Allah, Pencipta kita, yang memberi kita napas hidup.
Wawasan:
Adakah di antara kita yang tidak pernah menyepelekan misteri kehidupan
ini? Siapakah di antara kita yang lebih terobsesi dengan segala sesuatu
yang tidak kita miliki daripada menghargai napas kehidupan yang
dikaruniakan kepada kita oleh Allah Mahabijaksana yang memilih untuk
memberikan hidup dan sukacita-Nya kepada kita? Menurut kisah agung
Alkitab, Allah Pencipta kita meniupkan napas kehidupan-Nya kepada
segenggam debu, karena Dia ingin memberikan keberadaan-Nya yang kekal,
kasih-Nya, dan sukacita-Nya kepada kita. Itulah alasannya Dia turun
tangan menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan kita dengan-Nya
melalui Yesus Kristus agar kita hidup dalam pengampunan dan pengharapan.
—Mart DeHaan
Adakah di antara kita yang tidak pernah menyepelekan misteri kehidupan
ini? Siapakah di antara kita yang lebih terobsesi dengan segala sesuatu
yang tidak kita miliki daripada menghargai napas kehidupan yang
dikaruniakan kepada kita oleh Allah Mahabijaksana yang memilih untuk
memberikan hidup dan sukacita-Nya kepada kita? Menurut kisah agung
Alkitab, Allah Pencipta kita meniupkan napas kehidupan-Nya kepada
segenggam debu, karena Dia ingin memberikan keberadaan-Nya yang kekal,
kasih-Nya, dan sukacita-Nya kepada kita. Itulah alasannya Dia turun
tangan menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan kita dengan-Nya
melalui Yesus Kristus agar kita hidup dalam pengampunan dan pengharapan.
—Mart DeHaan
(sumber: SANTAPAN ROHANI-
Our Daily Bread Ministries )
